Jumat, 23 September 2016

Tugas Artikel

Merdeka Dua Kali
            Dalam obrolan bulan lalu dengan beberapa teman dari lingkungan ASEAN, teman dari Singapura dengan ringan berkata, “ Kami merdeka dua kali, baru bisa begini.” Saya pun bertanya, “ Bagaimana bisa? ”


Prefesional bernegara

            Prefesional dalam perdagangan dan tata kelola pemerintahan, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Singapura dengan skor 85 (peringkat ke-8 dari 167 negara). Pendapatan rata-rata Singapura pada 2015 sebesar 52.888 dolar AS per apita pertahun (peringkat ke-6). Banyak orang kita menyimpan uang dan berinvestasi di sana meski biaya invetasinya tinggi. Namun, kepastian hukum memang tidak murah.

Jalan Kemerdekaan
            Malaysia dan Singapura-kah acuan Indonesia? Secara kultural dan hitungan realistis tentunya Malaysia. Banyak sekali kemiripan antara Indonesia dan Malaysia samapi muncul masalah klaim warisan kultural. Keduanya juga lebih kurang mewarisan masalah-masalah sosial yang sama terkait isu-isu primordial yang mengganggu kesatuan bangsa. Indonesia juga pernah lam membangun di bawah kepemimpinan otoriter (1967-1998) dan kiini PDB kita 3.362 dollar AS (peringkat ke 114), dengan IPM 0,684 (peringkat ke-110) dan IPK 36 (perinkat ke-88).

            Nasionalisme elite tidak untuk kepentingan nasional, tetapi untuk melenggengkan ataupun merebut kekuasaan, untuk kepentingan bisnis pribadi dan  kroni, untuk menghindar dari tanggung jawab atas pelanggaran HAM masa lalu. Nasionalisme elite tak berdaya ketika bertemu dengan kepentingan elite bernegara lain yang diwakili entitas bisnis raksasa. Kita terjebak dalam slogan melawan kepentingan elite.

            Banyak negara di Afrika dan beberapa di Asia porak poranda oleh perang saudara . korupsinya juga akut. Rakyat mereka harus merdeka untuk kedua kali: merdeka dari kemiskinan dan keterbelakangan, mereka dari  mentalitas keberuntungan pada asing. Untuk itu, pemerintahnya mesti prefesional dalam mengurus negara dan  rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar