Merdeka Dua Kali
Dalam
obrolan bulan lalu dengan beberapa teman dari lingkungan ASEAN, teman dari
Singapura dengan ringan berkata, “ Kami merdeka dua kali, baru bisa begini.”
Saya pun bertanya, “ Bagaimana bisa? ”
Prefesional bernegara
Prefesional
dalam perdagangan dan tata kelola pemerintahan, Indeks Persepsi Korupsi (IPK)
Singapura dengan skor 85 (peringkat ke-8 dari 167 negara). Pendapatan rata-rata
Singapura pada 2015 sebesar 52.888 dolar AS per apita pertahun (peringkat
ke-6). Banyak orang kita menyimpan uang dan berinvestasi di sana meski biaya
invetasinya tinggi. Namun, kepastian hukum memang tidak murah.
Jalan Kemerdekaan
Malaysia
dan Singapura-kah acuan Indonesia? Secara kultural dan hitungan realistis
tentunya Malaysia. Banyak sekali kemiripan antara Indonesia dan Malaysia samapi
muncul masalah klaim warisan kultural. Keduanya juga lebih kurang mewarisan
masalah-masalah sosial yang sama terkait isu-isu primordial yang mengganggu
kesatuan bangsa. Indonesia juga pernah lam membangun di bawah kepemimpinan
otoriter (1967-1998) dan kiini PDB kita 3.362 dollar AS (peringkat ke 114),
dengan IPM 0,684 (peringkat ke-110) dan IPK 36 (perinkat ke-88).
Nasionalisme
elite tidak untuk kepentingan nasional, tetapi untuk melenggengkan ataupun
merebut kekuasaan, untuk kepentingan bisnis pribadi dan kroni, untuk menghindar dari tanggung jawab
atas pelanggaran HAM masa lalu. Nasionalisme elite tak berdaya ketika bertemu
dengan kepentingan elite bernegara lain yang diwakili entitas bisnis raksasa.
Kita terjebak dalam slogan melawan kepentingan elite.
Banyak
negara di Afrika dan beberapa di Asia porak poranda oleh perang saudara .
korupsinya juga akut. Rakyat mereka harus merdeka untuk kedua kali: merdeka
dari kemiskinan dan keterbelakangan, mereka dari mentalitas keberuntungan pada asing. Untuk
itu, pemerintahnya mesti prefesional dalam mengurus negara dan rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar