Jumat, 23 September 2016

Tugas Artikel

Dalam “ Providentia Dei “
Selama beberapa bulan terakhir sebelum memasuki detik-detik peringatan ulang tahun kemerdekaan kita yang ke-71, terbaca tak sedikit hal yang menyedihkan dan melorotkan harkat kehidupan kita sebagai bangsa.

Enam rahmat
            Dalam memperingati ultah kemerdekaan yang ke-71 sungguh patut kita mengecamkan ulang kehadiran Penyelenggara Ilahi dalam rentang panjang proses dan realisasi kemerdekaan itu. Setidaknya ada enam rahmat monumental dalam adonan Allah membentuk kimiawi bangsa kita. Keenam maharahmat itu adalah Nusantara; bahasa Indonesia; tradisi kearifan penerimaan dan keterbukaan pada keberagaman serta evolusi bajik-konstruktif dari arus pluralitas agama dan peradaban; Islam Nusantara; progresi dan kumulasi terhormat dari perjuangan proto-nasion, Kebangkitan Nasional, dan revolusi Kemerdekaan; dan tak kurang penting ideologi yang menyarati jiwa para Pendiri Bangsa kita-pembentuk keteguhan integritas mereka. Dalam rentang ratusan tahun, kumulasi tujuh satuan monumental ini bersenyawa tak terpisahkan.
Modal politik
            Tiga puluhan tahun sebelumnya, dalam risalah alit penting. Mengenai Serat Pralamang Jayabaya dari awal abad ke-18, Sartono Kartodirdjo (1959) sudah mencatat perubahan Weltanschauung orang Jawa perihal paham kosmosentrik, konsep waktu siklis, dan keniscayaan pertanggungjawaban individual yang kemudian dilacak komprehesif oleh Lombard bahkan sedari awal abad ke-16 itu. Martin Van bruinessen bersaksi, pesantren yang banyak dipandang berciri desan dan tradisional sebetulnya didasari pemeliharaan ilmu-ilmu keislaman baku pilihan yang kosmopilit. Dan itu dikaitkannya langsung dengan kecerdasaan para ulama Indonesia yang menuntut ilmu di tanah suci, yang kemudian menuliskan sendiri puluhan risalah keislaman berkualitas cemerlang.

            Keteguhan integritas mereka terbentuk bersama pendalaman ideologi dan konsistensinya dalam pengalaman serta sepakterjang politik. Dari situlah negara bangsa kita lahir! Kita dituntut untu terus mensyukuri keenam maharahmat penyelenggaraan ilahi bagi bangsa kita. Bersyukur berarti melipat gandakan kerja dan  tradisi barisan cahaya, barisan pencerahan, barisan akalbudi. Keenamnya merupakan modal politik yang sulit dicari tandingannya. Dengan itu, bukan hanya kita bisa melangkah lebih tegar ke depan, melainkan juga akan sanggup membalikkan kumilasi dan hal-hal menggetirkan disepanjang perjalanan kemerdekaan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar