Dalam “ Providentia Dei “
Selama beberapa bulan
terakhir sebelum memasuki detik-detik peringatan ulang tahun kemerdekaan kita
yang ke-71, terbaca tak sedikit hal yang menyedihkan dan melorotkan harkat
kehidupan kita sebagai bangsa.
Enam rahmat
Dalam
memperingati ultah kemerdekaan yang ke-71 sungguh patut kita mengecamkan ulang
kehadiran Penyelenggara Ilahi dalam rentang panjang proses dan realisasi
kemerdekaan itu. Setidaknya ada enam rahmat monumental dalam adonan Allah
membentuk kimiawi bangsa kita. Keenam maharahmat itu adalah Nusantara; bahasa
Indonesia; tradisi kearifan penerimaan dan keterbukaan pada keberagaman serta
evolusi bajik-konstruktif dari arus pluralitas agama dan peradaban; Islam
Nusantara; progresi dan kumulasi terhormat dari perjuangan proto-nasion,
Kebangkitan Nasional, dan revolusi Kemerdekaan; dan tak kurang penting ideologi
yang menyarati jiwa para Pendiri Bangsa kita-pembentuk keteguhan integritas
mereka. Dalam rentang ratusan tahun, kumulasi tujuh satuan monumental ini
bersenyawa tak terpisahkan.
Modal politik
Tiga
puluhan tahun sebelumnya, dalam risalah alit penting. Mengenai Serat Pralamang Jayabaya dari awal abad
ke-18, Sartono Kartodirdjo (1959) sudah mencatat perubahan Weltanschauung orang Jawa perihal paham kosmosentrik, konsep waktu
siklis, dan keniscayaan pertanggungjawaban individual yang kemudian dilacak
komprehesif oleh Lombard bahkan sedari awal abad ke-16 itu. Martin Van
bruinessen bersaksi, pesantren yang banyak dipandang berciri desan dan
tradisional sebetulnya didasari pemeliharaan ilmu-ilmu keislaman baku pilihan
yang kosmopilit. Dan itu dikaitkannya langsung dengan kecerdasaan para ulama
Indonesia yang menuntut ilmu di tanah suci, yang kemudian menuliskan sendiri
puluhan risalah keislaman berkualitas cemerlang.
Keteguhan
integritas mereka terbentuk bersama pendalaman ideologi dan konsistensinya
dalam pengalaman serta sepakterjang politik. Dari situlah negara bangsa kita
lahir! Kita dituntut untu terus mensyukuri keenam maharahmat penyelenggaraan
ilahi bagi bangsa kita. Bersyukur berarti melipat gandakan kerja dan tradisi barisan cahaya, barisan pencerahan,
barisan akalbudi. Keenamnya merupakan modal politik yang sulit dicari
tandingannya. Dengan itu, bukan hanya kita bisa melangkah lebih tegar ke depan,
melainkan juga akan sanggup membalikkan kumilasi dan hal-hal menggetirkan
disepanjang perjalanan kemerdekaan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar