Jumat, 23 September 2016

Tugas Artikel

Patologi Sosial Keberagamaan
            Dewasa ini konflik sosial bernuansa agama marak terjadi. Pada 17 Juli 2015, insiden kekerasan meletus di Tolikara, Papua. Sebuah masjid dibakar sekelompok orang yang bergabung dalam pemuda Gereja Injili di Indonesia atau GIDI. Tiga bulan berikutnnya, di tahun 2015 juga, konflik serupa terjadi di Kabupaten Singkil, Nangroe Aceh Darussalam. Dua gereja dihancurkan dan dibakar oleh sekelompok Muslim.

            Tirani mayoritanisme
            Apa yang terjadi di tiga daerah tersebut mencerminkan bahwa setiap pemeluk agama tengah mengidap tirani mayoritanisme berjubah agama. Perilaku arogan, superior, despotik, adalah ekspresi mayoritanisme yang meniranisme dirinya sebagai pihak yang paling berkuasa. Sementara pihak lain yang berkendudukan minoritas tidak boleh mengekspresikan laku keberagamaan yang lebih, apalagi ingin menyerupai langgam keberagamaan yang dilakukan oleh kelompok dominan.
Nalar kolonialisme
            Tirani mayoritanisme yang sewenang-wenang ini banyak dipengaruhi oleh nalar kolonialisme yang mengarahkan dirinya pada perilaku aneksasi kelompok lain. Alhasil, dengan perasaan dan semangat lebih kuat dan lebih banyak, setiap kelompok kecil yang ada di sebuah wilayah yang pola keberagamaannya berbeda dengan kelompok arus utama sering kali dinihilkan keberadaannya. Bahkan, dalam beberapa kasus”dipaksa” menyesuaikan diri ke dalam pola keberagamaan kelompok arus utama.
            Padahal, sistem kedidayaan yang disematkan dalam nalar kolonialismenya bisa jadi hanya sebuah “histeria” yang bermula dari rasa keangkuhan semata. Padahal, agaman yang digunakan sebagai modus operandinya tidak pernah melegetimasi tindakan anarkis, arogansi, despotisasi kepada kelompok lain.

            Dalam kaitan ini, patut kiranya kita mengoreksi kembali corak keberagamaan kita agar tidak semakin berpotensi mengidap patologi sosial keberagamaan sebab, dalam kondisi patologis, seluhur apa pun ajaran agama, sesublim apa pun pesan-pesan ketuhanan, akan selalu dikerangkai oleh apa yang disebut sebagai ilusi syaithaniyah yang mendorong kita kepada perbuatan yang mencela ajaran agama itu sendiri. Apalagi dalam perilaku kolonialisme sering kali mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan yang  menjadi hak asasi masing-masing umat beragama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar