Patologi Sosial Keberagamaan
Dewasa
ini konflik sosial bernuansa agama marak terjadi. Pada 17 Juli 2015, insiden
kekerasan meletus di Tolikara, Papua. Sebuah masjid dibakar sekelompok orang
yang bergabung dalam pemuda Gereja Injili di Indonesia atau GIDI. Tiga bulan
berikutnnya, di tahun 2015 juga, konflik serupa terjadi di Kabupaten Singkil,
Nangroe Aceh Darussalam. Dua gereja dihancurkan dan dibakar oleh sekelompok
Muslim.
Tirani
mayoritanisme
Apa
yang terjadi di tiga daerah tersebut mencerminkan bahwa setiap pemeluk agama
tengah mengidap tirani mayoritanisme berjubah agama. Perilaku arogan, superior,
despotik, adalah ekspresi mayoritanisme yang meniranisme dirinya sebagai pihak
yang paling berkuasa. Sementara pihak lain yang berkendudukan minoritas tidak
boleh mengekspresikan laku keberagamaan yang lebih, apalagi ingin menyerupai
langgam keberagamaan yang dilakukan oleh kelompok dominan.
Nalar kolonialisme
Tirani
mayoritanisme yang sewenang-wenang ini banyak dipengaruhi oleh nalar
kolonialisme yang mengarahkan dirinya pada perilaku aneksasi kelompok lain.
Alhasil, dengan perasaan dan semangat lebih kuat dan lebih banyak, setiap
kelompok kecil yang ada di sebuah wilayah yang pola keberagamaannya berbeda
dengan kelompok arus utama sering kali dinihilkan keberadaannya. Bahkan, dalam
beberapa kasus”dipaksa” menyesuaikan diri ke dalam pola keberagamaan kelompok
arus utama.
Padahal,
sistem kedidayaan yang disematkan dalam nalar kolonialismenya bisa jadi hanya
sebuah “histeria” yang bermula dari rasa keangkuhan semata. Padahal, agaman
yang digunakan sebagai modus operandinya tidak pernah melegetimasi tindakan
anarkis, arogansi, despotisasi kepada kelompok lain.
Dalam
kaitan ini, patut kiranya kita mengoreksi kembali corak keberagamaan kita agar
tidak semakin berpotensi mengidap patologi sosial keberagamaan sebab, dalam
kondisi patologis, seluhur apa pun ajaran agama, sesublim apa pun pesan-pesan
ketuhanan, akan selalu dikerangkai oleh apa yang disebut sebagai ilusi syaithaniyah yang mendorong kita kepada
perbuatan yang mencela ajaran agama itu sendiri. Apalagi dalam perilaku
kolonialisme sering kali mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi hak asasi masing-masing umat
beragama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar