Pokemon Go dan Kapitalisme Digital
Oleh Agus Sudibyo
Pokemon go menggoyang dunia. Hanya
dalam waktu seminggu, aplikasi game digital
ini telah diakses lebih dari 1 juta orang. Indonesia tak luput dari heboh
Pokeon Go.
Obyek pemasaran
Pokemon go tak pelak menunjukkan
bekrjannya apa yang disebut dan schiller sebagai fenomena kapitalisme digital.
Dikuasai pemain global
Pada bulan pertama diluncurkan,
pokemon go menghasilkan pendapatan lebih dari 1 juta dolar AS per hari di
Amerika Serikat. Berasal dari kota-kota kecil dan menengah di seluruh As, uang
itu hampir semuanya masuk kantong korporasi besar di California dan rekamannya
di Jepang.
Kedua, bukankah revolusi digital
juga berdampak pada tumbuhnya industri kreatif di tingkat lokal? Bukankah
Google juga berkonribusi dalam mendorong tumbuhnya rintisan usaha berbasis
daring sebagaimana hari-hari ini sedang menjamur di Indonesia?
Di sini kita menemukan ambivilensi
revolusi digital. Di satu sisi dia menumbuhkan dan mengembangkan ekonomi
kreatif pada tingkat lokal. Namun, di sisi lain, dia bersifat kanibalistik
terhadap industri informasi dan hiburan lokal. Industri media cetak, radio, dan
buku bertumbangan,sementara industri televisi mengalami kelesuhan. Pada saat
yang sama belanja iklan digital trus bertumbuh, tapi sebagian besar dikuasai
pemain-pemain global. Ini bukan hanya
kasus di Indonesia, melainkan juga di seluruh Indonesia.
/p>
Pada era selanjutnya,
untuk menjawab dinamika yang berkembang di Laut Tiongkok selatan, ASEAN dan
Tiongkok mendorong lahirnya Declaration on the Conduct of Parties inthe South
China Sea pada tahu 2002.
Sentralitas
dan kesatuan ASEAN merupakan kunci bagi ASEAN untuk menjaga relevansinya. Harus
diingat bahwa sentralitas dan kesatuan ASEAN ini bukanlah suatu kebijakan containment terhadap negara lain, apalagi
terhadap kekuatan besar tertentu
dikawasan. Sebaliknya, sentralitas dan kesatuan merupakan fondasi yang kokoh
yang dapat digunakan negara-negara anggota ASEAN untuk membina kerja sama baik
antara negara ASEAN maupun dengan para mitranya.
Posisi
tegas untuk melindungi kepentingan nasional yang telah diambil. Dengan
menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional serta menjaga
sentralitas dan kesatuan ASEAN, Idonesia berharap bahwa sentralitas dan
keamanan Asia Tenggara akan senantiasa terjaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar